HOME | E-PAPER RAKYAT MERDEKA | NUSANTARA | RMBLITZ | RMEXPOSE | TENTANG KAMI | INDEKS
Selasa, 09/02/10, 02:25
Sarah Palin Calon Presiden AS 2012
Senin, 08/02/10, 23:56
Kasus Terbunuhnya Michael Jackson Dibuka
Senin, 08/02/10, 10:30
Militer Mesir Tembak Mati Penyusup Afrika di Rafah
Minggu, 07/02/10, 20:28
Sarah Palin: Amerika Serikat Siap Revolusi
Minggu, 07/02/10, 08:23
HUT KIM JONG IL
Kim Jong Il dan Gagasan Korea Merdeka
Konfrensi Gagal, Perang Dilanjutkan
Jumat, 28 Juli 2006, 03:50:52 WIB

Roma. Seperti yang sudah diramalkan, konferensi Timur Tengah yang dihadiri Menlu 15 negara di Roma, Italia Rabu lalu, menemui jalan buntu. Di sisi lain, pemerintah Israel mengklaim konferensi itu berakhir dengan restu kepada pasukan mereka untuk melanjutkan agresi ke Lebanon. Sementara, kabinet Israel mulai mempertimbangkan perluasan serangan di Lebanon, kemarin.

Menlu 15 negara ditambah utusan PBB, Uni Eropa (UE) dan Bank Dunia yang bertemu untuk membahas krisis Israel-Lebanon tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Penyebab kebuntuan pertemuan yang digagas Menlu AS Condoleezza Rice itu adalah perbedaan pandangan mereka tentang gencatan senjata. Sebagian besar negara Eropa sepakat untuk mewujudkan gencatan senjata sesegera mungkin. Namun, AS dan sekutunya menolak usul tersebut agar Israel mempunyai lebih banyak waktu untuk memberantas gerilyawan Hizbullah.

Menkeh Israel Haim Ramon, yang dikenal sangat dekat dengan PM Ehud Olmert, menerjemahkan keputusan konferensi tersebut sebagai restu untuk meneruskan serangan militer. "Kami memandang keputusan di Roma kemarin sebagai suatu izin dari dunia internasional kepada Israel untuk melanjutkan operasi militer kami di Lebanon, sampai Hizbullah berhasil ditaklukkan," tandas Ramon, seperti dikutip Radio AD Israel, kemarin. Selanjutnya, dia mengatakan bahwa kemenangan atas Hizbullah juga merupakan kemenangan atas dunia teror.

Dalam kesempatan itu, Ramon juga sedikit mengevaluasi agresi militer Israel ke Lebanon selama ini. Menurutnya, serangan yang paling efektif harus diawali lewat udara. Sebelum pasukan darat memulai serangan, pasukan udara sebaiknya membombardir target serangan terlebih dahulu. "Strategi itu perlu diterapkan untuk menghindari jatuhnya korban dari pihak Israel," imbuhnya. Ramon juga mengatakan bahwa pasukannya tidak menargetkan serangan pada permukiman warga, melainkan pangkalan militer yang digunakan Hizbullah sebagai tempat persembunyian.

Sambil membela diri, Ramon mengatakan bahwa selama ini pasukan Israel telah memberikan peringatan kepada warga untuk meninggalkan kawasan selatan Lebanon yang diyakini sebagai sarang Hizbullah. Oleh karena itu, mereka yang masih enggan meninggalkan lokasi tersebut dianggap sebagai pendukung Hizbullah. "Saat ini, mereka yang masih tersisa di Lebanon selatan adalah teroris yang memiliki kaitan kuat dengan Hizbullah," terang Ramon. Namun, Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan, masih banyak warga sipil yang tertinggal.

Lebih lanjut, Ramon menekankan bahwa militer Israel tidak akan mundur setapak pun. "Kami perlu mengaktifkan sistem persenjataan yang hebat untuk mendukung operasi pasukan darat kami di kawasan selatan Lebanon. Kelebihan kami dari gerilyawan Hizbullah adalah sistem persenjataan kami yang canggih, bukan perlawanan konvensional yang harus saling berhadapan," ujarnya bangga. Sejumlah panglima perang militer termasuk Menhan Amir Peretz meminta pemerintah menyetujui usulan mereka tentang serangan militer yang lebih luas di Lebanon. ap/afp/*/hep/jpnn


Baca juga:


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Isi formulir berikut ini untuk memberi komentar, mencetak naskah, dan mengirimkan kepada teman.

 
 

Koalisi Suku Bunga dan Rendahnya Permintaan Kredit
Kalau Mau Gugat, Cabut Dulu Dong SP3 Tan Kian
Siapa yang Berani Menyerang Singapura?

KINERJA TIFATUL SEMBIRING
Ngurusi RPP Penyadapan Nilainya Jeblok Jadi Enam